Jamaluddin al-Afghani

  1. PENDAHULUAN

Abad ke 19 hingga abad ke 20 merupakan suatu momentum dimana umat Islam memasuki suatu gerbang baru, gerbang pembaharuan. Fase ini kerap disebut sebagai abad modernisme, suatu abad dimana umat diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Barat jauh mengungguli mereka. Keadaan ini membuat berbagai respon bermunculan, berbagai kalangan Islam merespon dengan cara yang berbeda berdasarkan pada corak keislaman mereka. Ada yang merespon dengan sikap akomodatif dan mengakui bahwa memang umat sedang terpuruk dan harus mengikuti bangsa Barat agar dapat bangkit dari keterpurukan itu.

Berbicara abad pembaharuan dalam Islam, maka tak lepas dari seorang tokoh yang merupakan sosok penting dalam pembaharuan Islam, al-Afghani, seorang pembaharu yang memiliki keunikan, kekhasan, dan misterinya sendiri. Berangkat dari pembagian corak keIslaman di atas, Afghani menempati posisi yang unik dalam menanggapi dominasi Barat terhadap Islam. Di satu sisi, Afghani sangat moderat dengan mengakomodasi ide-ide yang datang dari Barat, ini dilakukannya demi memperbaiki kemerosotan umat. Namun di lain sisi, Afghani tampil begitu keras ketika itu berkenaan dengan masalah kebangsaan atau mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keIslaman.[1]

  1. KEHIDUPAN, KARYA DAN PEMIKIRANNYA
  1. A.    Kehidupan

Jamaluddin al-Afghani lahir di Asadabad, Afghanistan pada tahun 1839. Pertama kali, ia belajar di Persia dan Afghanistan. Pada usia 18 tahun ia telah mempunyai pengetahuan yang istimewa dalam ilmu-ilmu Islam, seperti filsafat dan ilmu-ilmu yang lain.

Ketika berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Pada tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi perdana menteri. Pada waktu itu Inggris telah mulai mencampuri persoalan politik dalam negeri Afghanistan dan dalam pergolakan yang terjadi Al-Afghani lebih memilih pihak yang melawan golongan yang disokong Inggris. Pihak pertama kalah dan Al-Afghani merasa lebih aman meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke India pada tahun 1869. [2]

Karena di India  ia juga merasa tidak bebas bergerak, kemudian ia pindah ke Mesir pada tahun 1871 dan menetap di Kairo. Pada mulanya ia menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir dan memusatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra Arab.

Kehidupannya selama di Mesir dipandang sebagai pembuka sejarah hidupnya. Kalangan orang terpelajar menerimanya dengan baik bahkan meminta agar Al-Afghani tinggal lebih lama di Mesir. Di sini ia dapat mempengaruhi Muhammad Abduh yang kemudian menyebabkannya menjadi salah satu mujaddid dalam renaissance Islam. Al-Afghani sering memperingatkan rakyat Mesir tentang bahaya besar penjajahan terhadap Mesir. Disamping memajukan sikapnya untuk mencairkan pengertian Islam, ia pun menyerakkan faham politik menentang Imperialis. Sehingga ia diusir dari Mesir oleh Inggris pada tahun1879.[3]

Setelah diusir dari Mesir, Al-Afghani pindah ke Paris dan mendirikan perkumpulan Al-Urwah Al-Wutsqa. Anggotanya terdiri atas orang Islam dari India, Mesir, Syiria, Afrika Utara dan lain-lain.

Cita-cita Al-Afghani hanya satu, yaitu “mulia”. Ia selalu berkata: “Hiduplah mulia dan matilah mulia di tengah gelombang pedang dan lambaian bendera.”

  1. B.     Karyanya

Baru saja meninggalkan Afghanistan dan menuju ke India, Al-Afghani menulis sebuah buku yang berjudul Al-Radd ala Ad-Dahriyyin (Penolakan atas Kaum Materialis). Buku ini adalah sebuah pembelaan atas Islam dari serangan zaman modern.

Kemudian setelah diusir dari Mesir dan pindah ke Paris, bersama Muhammad Abduh ia menerbitkan majalah dalam bahasa Arab, Al-Urwat el Wutsqa. Majalah ini menggelorakan rasa keinsyafan umat Islam agar bangun menantang penjajahan Barat.[4]

Karya Al-Afghani selanjutnya adalah buku yang berjudul Dia’al Kahficain (Kemegahan dua penjuru alam ). Buku ini ia karang saat mengunjungi Inggris dan mengadakan kampanye menentang Shah Persia.[5]

  1. C.    Garis Besar Pemikirannya

Jamaluddin Al-Afghani melihat berbagai bentuk yang dilakukan oleh penjajah Barat di negara-negara Islam, yaitu merusak kepribadian Islam, sedangkan yang paling berbahaya adalah berusaha merusak akidah seorang muslim, baik dengan menciptakan keragu-raguan maupun menghilangkan akidah dari hatinya dengan memasukkan paham ateis pada umat Islam.

Menghadapi penjajahan tersebut, Al-Afghani sadar bahwa umat Islam sangat terancam oleh kekuatan Barat yang dinamis, sedangkan umat Islam dalam keadaan lemah yang dikarenakan lemahnya persaudaraan di antara negara-negara Islam itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, Al-Afghani menuntun perlawanan dengan mengobarkan semangat persatuan umat Islam melalui Pan Islamisme yang berpusat di Kabul, Afghanistan. Pergerakan tersebut menggunakan aliran pikiran modern dan menghendaki persatuan umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam seperti zaman Khalifah dahulu. Gerakan Pan Islamisme sebagai gerakan yang sangat revolusioner dan anti penjajahan.

Pan Islamisme bertujuan untuk melepaskan cengkeraman bangsa Barat. Kemajuan umat Islam tidak akan berhasil jika perpecahan terjadi pada umat Islam. Oleh karena itu Al-Afghani mengajak umat Islam:

a)      Untuk kembali pada Al-Qur’an, menghilangkan fanatisme madzhab, menghilangkan taqlid golongan.

b)      Mengadakan ijtihad terhadap Al-Qur’an.

c)      Menyesuaikan prinsip Al-Qur’an dengan kondisi kehidupan umat.

d)     Menghilangkan kurafat dan bid’ah.

e)      Mengambil peradaban, kebudayaan Barat yang positif sesuai dengan agama Islam serta menciptakan satu pemerintahan Islam yang berhubungan satu sama lain.

Dengan perjuangannya melawan imperialisme Barat, Al-Afghani ingin merubah keadaan umat Islam yang lemah menjadi kuat agar mereka dapat menghadapi permusuhan Barat dengan persiapan yang teratur dan kuat.[6]

Al-Afghani masih menganggap kuat atas agama sebagai pemersatu. Semasa hidupnya, Al-Afghani memang berusaha untuk mewujudkan persatuan itu. Yang terkandung dalam Pan Islamisme ialah persatuan seluruh umat Islam, dan usahanya sedikit-banyak akan membuahkan hasil dan itu terlihat dengan jelas bahwa ide-ide modernisme di Mesir menjadi bagian penting yang menggugah kesadaran umat Islam untuk mengevaluasi diri, terutama mengenai hal-hal yang berkenaan dengan keterbelakangan mereka selama ini.[7]

  1. PEMIKIRAN FILSAFAT AL-AFGHANI

Kehidupan Al-Afghani sejalan dengan fikirannya. Teori dan praktik, keduanya berjalan menjadi satu dalam usahanya. Lapangan usaha Al-Afghani dalam dunia Islam modern, serupa dengan usaha Socrates dalam alam Hellenis di zaman purbakala. Fikiran Al-Afghani disulam dengan keadaan hidupnya yang merupakan tiga jenis keadaan: kelezatan rohani, perasaan pembelaan agama dan moral tinggi, yang kesemuanya ini telah mempengaruhi alam fikirannya dan membayang ke dalam bukunya yang berjudul Al-Radd ala ad-Dahriyin­-penolakan atas kaum materialis.

Al-Akkad, seorang pengarang Mesir yang ternama menyatakan bahwa Al-Afghani telah menjadi propagandis Islam, berhubungan dengan kebenciannya terhadap materialisme. Dengan pemandangan tabiat alam, ia menolak pengaruh materialisme sebelum Marxisme populer, tumbuh di Eropa.[8]

Tehadap perasaan agama, Al-Afghani sebagai pemimpin agama dalam masyarakat mengatakan: “Agama adalah sesuatu yang penting adanya bagi satu bangsa, karena agama itulah sumber keberuntungan umat manusia.” Selanjutnya ia mengatakan bahwa peradaban yang sebenarna adalah yang didasarkan kepada pelajaran budi pekerti dan agama, bukan peradaban yang didasarkan pada kemajuan material, seperti pembangunan kota-kota besar, pendirian perusahaan raksasa atau menciptakan mesin-mesin ultra-modern yang dipergunakan untuk membunuh dan menghancurkan.

Terhadap perasaan susila dan budi pekerti, Al-Afghani melemparkan kutuk terhadap politik kolonial imperialis negara-negara penjajah Barat yang menggunakan sistem yang didasarkan pada kekejian dan memperbudak orang yang lemah.

Selanjutnya Al-Afghani menunjukkan dengan jelas perbedaan antara sosialisme muslim yang didasarkan kepada cinta dan kasih sayang, akal dan kebebasan. Sedangkan sosialisme komunis didasarkan keapada kebendaan yang mandul akan kasih sayang yang akhirnya menimbulkan perasaan benci-membenci. Komunis berganti-ganti menjatuhkan kawan karena sifat keakuan (selfishness) yang tak dapat dikekang dan mereka memang tidak punya alat pengekang itu, karena tidak beragama dan memecah dalam masyarakat mereka. Al-Afghani pada waktu yang sama merupakan seorang muslim sejati dan seorang rationalis. Ia menuntut kepada segala madzhab kaum muslimin untuk mengambil perhatian, agar menggunakan dasar otak untuk mencapai kemajuan. Suara ini diteriakkan sekuat mungkin karena pada masa itu umat Islam tidak lagi menggunakan otaknya, akan tetapi sudah meras cukup membaca yang tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi dan otak-otaknya sudah berhenti berfikir.  Tentang ini ia mengatakan: “Di antara segala agama, hanya Islamlah yang mengutuk pendirian percaya saja dengan tidak membandingkan kebenarannya dan tidak menyukai seseorang yang mengikuti faham orang lain, dengan tidak mendapat kepastian kebenarannya. Bagaimanapun juga, Islam itu berkata, ia akan berkata dengan akal. Kitab suci orang muslim itu menyatakan bahwa keberuntungan itu terletak dalam cara yang benar bagi orang yang menggunakan akalnya.”

Akal menjadi dasar pokok bagi kehidupan orang Islam, sebab, hilang agama bagi orang yang kehilangan akal.

Sebagai seorang yang mengagungkan akal dan fikiran, Al-Afghani menyokong pendapat golongan yang membebaskan dirinya dari pada pelajaran Takdir. Faham ini dinamakan dengan dunia modern dengan fatalisme, percaya pada takdir dengan mengesampingkan kekuatan akal untuk menghindari tiap bahaya. Dalam persoalan ini Al-Afghani menerangkan bahwa yang dikatakan Al-Qada wal-Qadar adalah  seperti pengertian predestination dalam bahasa inggris, sebagai tujuan permulaan. Ia mempunyai perbedaan yang besar sekali sebagaimana yang diartikan oleh orientalis Barat sebagai fatalisme yang dalam bahasa Arab disebutkan al-jabr. Al-Qada wal-Qadar adalah suatu kepercayaan yang menguatkan kekuatan fikiran untuk mengambil keputusan dari kaum muslimin. Dengan mempercayai Al-Qada wal-Qadar itu seorang muslim akan naik energi moralnya dan mendorongnya kepada tawakkal dan sabar untuk mencapai tujuannya. Berlainan sekali dengan al-jabr, penyerhan diri yang sesat, suatu bid’ah yang dimasukkan ke dalam pelajaran Islam oleh musuh-musuh Islam untuk melumpuhkannya dari dalam dan untuk tijuan politik tertentu.[9]

  • Ajaran politik

Al-Afghani dinamakan oleh penulis-penulis Barat sebagai bapa Pan Islamisme yang mengajarkan agar umat Islam di seluruh dunia bersatu dalam sebuah Khalifah untuk membebaskan mereka dari perbudakan bangsa asing. Negara-negara Barat telah membenarkan penyerangan dan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh mereka atas negara-negara Timur. Tidak hanya mengadakan penyerangan dan penjajahan, akan tetapi mereka juga telah menggunakan segala cara untuk mencegah tumbuhnya kekuatan negara-negara Timur kembali. Segala gejala yang membawa pada renaissance dari setiap negeri Islam ditumpas habis dengan segenap kekuatan, sehingga tidak ada yang tersisa bagi umat muslim. Oleh karena itu perlu bagi segenap negeri Islam bersatu dalam suatu pertahanan bersama untuk membela kedudukan mereka dari keruntuhan yang besar. Untuk mencapai ini orang Islam harus mempunyai kepandaian tekhnik dalam rangka kemajuan Barat dan wajib belajar segala rahasia kekuatan orang Eropa.

Pendapat ini selalu diulang-ulangnya dalam majalah Al-urwat el-Wutsqa. Dalam sebuah karangannya yang bertajuk “Persatuan Islam”, ia menyatakan bahwa umat Islam telah pernah bersatu merupakan kesatuan umat di bawah pemerintahan yang gilang-gemilang. Pada waktu itu mereka mencapai kemajuan dalam ilmu dan pelajaran. Mereka terkemuka  dalam filsafat dan ilmu-ilmu lain. Semua yang pernah dicapai umat Islam pada saat itu menjadi pusaka dan kebangaan umat Islam sampai sekarang. Karena hal itu menjadi motivasi tercapainya kesatuan itu. Umat Islam harus insyaf dan harus mengerti bahwa dalam keadaan bagaimanapun mereka tidak diperbolehkan berdamai dan bekerjasama dengan orang yang telah menjajah mereka, sehingga tercapai kekuatan yang penuh, di mana mereka sendiri menentukan nasib mereka.[10]

Demikanlah pengertian apa yang dinamakan Pan Islamisme yang dianjurkan oleh Al-Afghani.

  • Patriotisme

Gelora panas yang dituangkan Al-Afghani ke dalam hati tiap-tiap muslim yang membaca tulisannya, akan tetapi ia tidak pernah mencoba menukar agama itu dengan bentuk national patriotisme. Ia hanya berusaha mendekatkan setiap muslim itu dalam bentuk perseorangan. Akan tetapi apabila muslim itu merupakan suatu negara, ia berusaha untukmenimbulkan pengertian satu bagi setiap warga negaranya dengan tali Islam yang dianut mereka. Persatuan ini supaya digunakan untuk mencapai kebebasan politik. Ia berusaha mempermuda, membaharui alira fikiran Turki, Persia, India, dan Mesir, di samping ia mempermuda dan membaharui alam fikiran umat Islam yang berada disekitarnya. Orang-orang Islam yang masih beruntung mempunyai negara, meskipun dalam banjir semangat dan kerakusan penjajah Barat, masih dapat mempergunakan pengaruh mereka, bersamaan dalam lapangan kehidupan politik dan sosial membendung kerakusan Barat terhadap berbagai negara-negara Islam yang terjajah.

Dalam anjurannya terhadap membela negara masing-masing, Al-Afghani menguraikan pendapatnya dalam Urwat el-Wutsqa, sebagai berikut: “untuk  mempertahankan tanah tumpah darah adalah undang-undang alam yang merupakan suatu kewajiban hidup yang diikat dengan undang-undang alam melaui instink sebagaimakan dan minum. Tidak ada yang memuji instink ini kalau pembelaan itu hanya sekedar untuk makan dan minum belaka dan tidak disertai semangat patriot yang menyala-nyala. Sebaliknya, lawan dari patrion adalah traitor atau pengkhianat bangsa.”

Terhadap pengertian pengkhianat ini, Al-Afghani menyatakan pendapatnya: “Dengan istilah pengkhiana, kita tidak  menunjukkan kepada seorang yang menjual negaranya untuk kepentingan keuangan dengan menyerahkan negerinya sebagai alasan ia menerima pembayaran, besar atau kecil. Setiap penjualan negara bagaimanapun besarnya harga yang diterima, akan tetapi itu dianggap sangat rendah. Yang dimaksudkan dengan pengkhianat yang sebenarnya adalah perseorangan yang bertanggun jawab atas musuh yang selangkah demi selangkah mask ke dalam tanah airnya. Barangsiapa yang membuka kesempatan bagi musuh yang menjejakkan kaki dalam negerinya, sedangkan ia sanggup untuk menghalangi yang demikian itu, inilah yang dinamakan penghianat, apapun juga topeng yang dipakainya, apapun juga helah yang dikemukakannya untuk menyelimuti perbuatannya tidaklah berfaedah. Barangsiapa yang sanggup bertindak dengan kekuatan atau bertindak dengan kekuatannya untuk melakukan counter aksi terhadap tindakan musuh, akan tetapi ia sendiri diam berpangku tangan dan duduk bungkem, orang ini adalah termasuk orang yang dinamakan pengkhianat.”

Setelah Al-Afghani menguraikan pendapat di atas, ia melanjutkan lagi: “Tidak usahlah merasa malu bagi negara bagaimanapun kecilnya, betapapun lemah dengan sedikit rakyatnya, jikalau ia bangun mengangkat senjata melawan suatu negara besar dan jauh lebih kuat dari padanya, manakala negeri itu melanggar kehormatannya. Kepahitan yang diperoleh dalam perjalanan  waktu  tidak dapat dihapuskan, baik oleh suatu bangsa, oleh individual atau oleh golongan, akan tetap mengikat leher mereka di bawah pemerasan musuh. Kejadian ini datang baik karena kelalaian dalam mengurus persoalan negeri sendiri atau terjadi karena mengharapkan keuntungan yang bersifat sementara, orang-orang ini dianggap sebagai agen dari kerbuhan mereka sendiri.”[11]

  • Kebudayaan Nasional

Al-Afghani mengatakan bahwa orang-orang Barat melakukan cara-cara kasar di Timur untuk menekan semangat patriot serta dengan membekukan pendidikan-pendidikan nasional dan merusak kebudayaan Timur. Mereka menghambat langkah orang Timur untuk ikut memikirkan nasib negaranya dan mencegah orang-orangnya yang berhasrat untuk mencapai kesempurnaan. Selain itu, orang-orang Barat berusaha untuk meniadakan segala kebaikan yang terdapat di Timur. Mereka mengatakan dalam bahasa Arab, Persia atau India tidak sesuatu yang dapat dianggap sebagai nilai sastra dan tidak ada yang penting. Mereka menekan  kepercayaan bahwa bahasa-bahasa Timur tidak sanggup dijadikan bahasa ilmu, karena itu rakyat dianjurkan agar mempelajari bahasa-bahasa Barat.

Akibat penjajahan, banyak orang Timur yang tidak lagi dapat mengutarakan pendapatnya dalam bahasanya sendiri. Maka timbullah rasa dalam hati bahwa untuk memperoleh pengetahuan peradaban dan kebudayaan manusia, haruslah dapat menguasai salah satu bahasa Barat. Kepercayaan ini datang karena orang-orang Barat mengusahakan agar pengetahuan-pengetahuan tidak ditulis dalam bahasa Timur.

Al-Afghani melanjutkan pendapatnya bahwa haruslah dipahami oleh orang-orang Timur bahwa suatu bangsa yang tidak menggunakan bahsanya sendiri tidak akan dapat mengadakan perasaan yang baik dalam masyarakat. Jika bahsa telah mati, maka kesusasteraannya pun ikut mati. Setelah itu habislah harga sebagai bangsa jika tida mempunyai kesusasteraan sendiri. Sejarah tidak akan dilahirkan kalau rakyatnya tidak mengakui kebaikan-kebaikan yang telah dikerjakan oleh orang-orang segenerasinya.

Demikianlah Al-Afghani berusaha mengembalikan rasa kebangsaan yang telah hilang dari beberapa negara Islam yang telah memandang mulia segala yang datang dari Barat dan memandang hina apa-apa yang terbit di dunia Timur.[12]

 

  1. KESIMPULAN

Al-Afghani menuntun perlawanan dengan mengobarkan semangat persatuan umat Islam melalui Pan Islamisme yang berpusat di Kabul, Afghanistan. Pergerakan tersebut menggunakan aliran pikiran modern dan menghendaki persatuan umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam seperti zaman Khalifah dahulu. Gerakan Pan Islamisme sebagai gerakan yang sangat revolusioner dan anti penjajahan.

Pan Islamisme bertujuan untuk melepaskan cengkeraman bangsa Barat. Kemajuan umat Islam tidak akan berhasil jika perpecahan terjadi pada umat Islam. Oleh karena itu Al-Afghani mengajak umat Islam:

a)      Untuk kembali pada Al-Qur’an, menghilangkan fanatisme madzhab, menghilangkan taqlid golongan.

b)      Mengadakan ijtihad terhadap Al-Qur’an.

c)      Menyesuaikan prinsip Al-Qur’an dengan kondisi kehidupan umat.

d)     Menghilangkan kurafat dan bid’ah.

e)      Mengambil peradaban, kebudayaan Barat yang positif sesuai dengan agama Islam serta menciptakan satu pemerintahan Islam yang berhubungan satu sama lain.

  1. PENUTUP

Demikianlah makalah kami yang sedikit mengupas tentang Jamaluddin Al-Afghani. Tentunya makalah ini terdapat banyak kekurangan karena minimnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan agar dalam menyusun makalah selanjutnya dapat lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan pembaca. Amien.

DAFTAR PUSTAKA

Black, Antony. 2006. Pemikiran Politik Islam. Jakarta: Serambi

Hoesin, Oemar Amin. 1975. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Majid, Nurcholish. 1994. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Nasution, Harun. 2003. Pembaharuan dalam Islam, sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Sani, Abdul. 1998. Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Sjadzali, Munawir. 1993. Islam dan Tata Negara, ajaran, sejarah dan pemikiran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Taufik, Ahmad. 2005. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


[1] Antony Black. Pemikiran Politik Islam, Jakarta: Serambi, 2006. Hlm. 550

[2] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam, sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2003. Cet. 14. Hlm. 43

[3] Dr. Oemar Amin Hoesin. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979. Cet. 3. Hlm. 159.

[4] Nurcholish Majid. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1994. Cet. 3. Hlm. 57

[5]Op.cit., Hlm. 160

[6] Akhmad Taufiq, M. Pd. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005. Hlm. 90-92

[7] Drs. Abdul Sani. Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998. Cet. 1. Hlm. 47

[8] H. Munawir Syadzali, M. A. Islam dan Tata Negara, ajaran, sejarah dan pemikiran.  Jakarta: penerbit Universitas Indonesia (UI-press), 1993. Hlm. 118

[9] Dr. Oemar Amin Hoesin. Op.cit., hlm 160-163

[10] Dr. Oemar Amin Hoesin. Ibid. Hlm. 164

[11] Ibid. Hlm. 165-167

[12] Ibid. Hlm. 167-168

Advertisements
By barristacoffelicious Posted in Makalahku

LEADERSHIP DALAM ISLAM

  1. PENDAHULUAN

Di mana terdapat kelompok manusia atau ummat yang hidup bersama (hidup bermasyarakat) di sana diperlukan adanya suatu bentuk kepemimpinan dan kepengurusan yang berfungsi mengurus dan mengatur kehidupan dan perhubungan antar manusia. Dan kalau di sana mutlak diperlukan sebuah kepemimpinan atau kepengurusan tetntulah dinutuhkan adanya manusia, pengurus atau pemimpin yang mengendalikannya.

Dalam makalah ini penulis akan memaparkan pengertian kepemimpinan, ciri-ciri pemimpin yang baik beserta tugas atau funsi pemimpin.

  1. PEMBAHASAN
  1. A.    Pengertian Leadership (Kepemimpinan)

Dalam Bahasa Inggris pemimpin disebut leader, sedangkan kegiatan kepemimpinan disebut dengan leadership. Perkataan khalifah yang telah banyak dipakai pada dasarnya berarti pengganti atau wakil. Pemakaian perkataan khalifah setelah Rasulullah SAW wafat, terutama bagi keempat orang Khulafaur Rasyidin, menyentuh juga maksud yang terkandung dalam perkataan “Amir” disebut juga penguasa. Oleh karena itu perkataan tersebut dalam Bahasa Indonesia disebt pemimpin, yang cenderung berkonotasi sebagai pemimpin formal. Konotasi tersebut terlihat pada bidang yang dijelajahi di dalam tugas pokoknya, tidak hanya aspek-aspek keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi juga aspek-aspek pemerintahan dalam berbangsa dan bernegara. Sehubungan dengan itu, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 30:

وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً

Artinya:

Sesungghunya Aku (Allah) akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi.[1]

Ayat di atas tidak sekedar menunjuk pada khalifah pengganti Rasulullah SAW, tetapi juga manusia yang dibebani oleh Allah untuk memakmurkan bumi. Tugas yang disandangnya itu menempatkan manusia sebagai pemimpin yang menyentuh dua hal penting dalam kehidupannya. Tugas yang pertama adalah menyeru atau menyuruh orang lain untuk beramal ma’ruf, sedangkan tugas yang kedua adalah menyeru atau menyuruh orang lain meninggalkan perbuatan munkar.

  1. B.     Ciri-Ciri Pemimpin Yang Baik

Secara garis besar, seorang pemimpin haruslah memiliki bobot kepemimpinan dengan sifat-sifat positif dan kelebihan-kelebihan tertentu:

  1. Beriman dan bertaqwa

Untuk dapat diterima menjadi pemimpin ummat, keimanan adalah syarat yang tidak dapt ditawar-tawar, demikian pula dengan ketaqwaan agar pemimpin dapat menuntun ummatnya pada ketaqwaan pula.

  1. Kelebihan jasmani

Kekuatan dan kesehatan fisik perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Pada umumnya para Rasul dan Nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk memimpin ummat memiliki kekuatan fisik yang memadai, termasuk Nabi Muhammad SAW.[2]

  1. Trampil dan berpengetahuan

Di samping harus memiliki pengetahuan umum, seorang pemimpin  harus mengetahui ilmu-ilmu khusus yang berhubungan dengan leadership, manajemen dan organisasi. Pengetahuan khusus di bidang ketatalaksanaan ini perlu dimiliki oleh pemimpin, baik secara teori maupun praktek. Secara teori ia harus belajar lebih banyak tentang ilmu-ilmu kepemimpinan dan ketatalaksanaan. Secara praktek ia harus memiliki kepandaian praktis bagaimana seni dan teknik memipin ummat, menyusun shaf dan persatuan.[3]

1. Kelebihan batin

Pemimpin perlu memiliki kekuatan batin, sabar dan tahan menghadapi ujian dan rintangan. Demikian juga harus lapang dada, luas fikiran dan menghormati pendapat bawahan meskipun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

2. Memiliki keneranian (syaja’ah)

Keberanian adalah sifat yang mutlak perlu dimiliki oleh pemimpin, karena seorang pemimpin harus berani membela kebenaran dan tidak boleh takut pada ancaman dan intimidasi oleh kaum yang dzalim.

3. Adil dan jujur

Seorang pemimpin haruslah memiliki sifat adil dan jujur, karena prinsip keadilan dan kejujuran hanya bisa ditegakkan di tengah-tengah ummat jika pemimpinnya adil dan jujur.

4. Bijaksana

Di samping perlu memiliki sikap tegas dan istiqomah dalam pendirian juga perlu memiliki hik. mah kebijaksanaan dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya. Pemimpin yang diberi hikmah kebijaksanaan ini akan memperoleh kebaikan yang banyak dalam amal perjuangannya.

5. Demokratis

Di dalam pelaksanaan urusan ummat, musyawarah adalah salah satu sendi. Jika salah sendi ini ditegakkan, tentulah pemimpin tidak boleh bersifat dictator.

6. Penyantun

Menyantuni, melindungi dan mengurus ummat adalah tugas pemimpin. Tugas ini hanya mungkin dilakukan dengan baik jika pemimpin itu mempunyai sifat sopan santun dan berjiwa penyantun.

7. Faham keadaan ummat

Pemimpin harus dapat memahami dan menyelami jiwa rakyatnya yang berbeda-beda pembawaan dan wataknya. Rakyat memiliki kesanggupan yang berbeda-beda, ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang kaya dan ada yang miskin. Pemimpin adalah imam yang harus memahami jiwa makmumnya. Untuk itu, pemimpin perlu mengetahui ilmu jiwa karena ilmu jiwa adalahuntuk memgetahui perasaan dan fikiran individu dan masyarakat.

8. Ikhlas dan rela berkorban

Sikap ikhlas dan kerelaan berkorban perlu dimiliki oleh pemimpin. Yang dimaksud berkorban di sini adalah berkorban tenaga dan waktu, dan kalau diperlukan juga dengan harta dan jiwanya.

9. Qana’ah

Seabagai seorang pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan ummat dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Jika seorang pemimpin telah dihinggapi sifat rakus dan tamak, maka kepentingan pribadinya akan membuatnya mengesampingkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan kemungkinan melakukan kecurangan serta korupsi.

10. Istiqomah

Sikap dan sifat inilah yang akan membuat seorang pemimpin mampu bertahan dalam perjuangan mencapai cita-cita ummat walau bagaimana pun pahitnya. Pemimpin yang istiqomah ini akan memperoleh ketanangan tanpa cemas dan duka cita:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

 

Artinya:

 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah (berpendirian teguh) Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.(Q.S. Al-Ahqaf: 13)

  1. Berakhlaqul karimah

Pemimpin juga berfungsi sebagai pendidik ummat, maka seorang pemimpin wajib memiliki sifat-sifat yang mulia. Akhlaq yang mulia inilah yang akan membuatnya dipatuhi oleh ummat yang dipimpinnya.

  1. C.    Leadership Islam
    1. Memilih pemimpin yang beriman

Jika dalam sejarah manusia berkali-kali orang-orang beriman memegang tampuk kepemimpinan ummat (ke-khalifahan) di muka bumi. Kekhalifahan, kekuasaan, kepemimpinan atau kepengurusan ini akan didapatkan dengan janji Allah yang sudah tentu harus melalui sunnatullah pula, yakni dengan beramal shaleh dan berjihad di jalan Allah denga segala daya upaya dan ikhtiar meninggikan Agama Allah di muka bumi.[4]

Dapat dimaklumi akibat-akibat apa yang akan terjadi jika pengurus dan pemimpin itu terdiri dari orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Kemajuan dan kemakmuran tidak akan bisa diharapkan kemajuannya. Oleh karena itu kepemimpinan terhadap orang yang beriman haruslah dilakukan oleh orang-orang yang beriman sendiri.

  1. Kewajiban taat kepada pemimpin

Jika seorang pemimpin telah terpilih dan dikukuhkan serta ditetapkan memimpin ummat Islam, maka wajib bagi ummat Islam untuk taat kepadanya selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan selama perintah-perintahnya sejalan dengan garis-garis al-Qur’an dan Sunnah.[5]

Kebencian kepada pemimpin karena perbedaan pendapat atau hal-hal yang tidak menyangkut kemungkaran tidak boleh dijadikan alas an untuk mengingkari pemimpin. Sebaliknya jika pemimpin itu jelas-jelas menyimpang dari garis-garis Allah dan Rasul-Nya, maka segala perintahnya tidak wajib diikuti. Apalagi jika perintah yang diberikannya membawa pada kemungkaran, maka wajib bagi ummat yang dipimpin untuk menyanggah dan mengingkarinya.

  1. Fungsi pemimpin

Seorang pemimpin dipilih bukan hanya untuk sekedar memimpin rakyatnya tanpa tujuan yang jelas, akan tetapi pemimpin mempunyai tugas-tugas yang harus dipenuhi. Di antara tugas-tugas pemimpin adalah sebagai berikut:

1)      Memelihara amanah

Ada dua amanat yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin, yaitu amanat Allah dan Rasul-Nya dan amanat ummat yang dipimpinnya.

Jika pemimpin telah terpilih, berarti ia telah memikul amanah untuk menjalankan perintah-perintah Allah di tengah-tengah ummat dan menjauhi larangan-Nya. Demikian juga masyarakat telah mempercayakan kepadanya sebagai pemimpin untuk melayani kepentingan umum, berarti ia harus loyal dalam memperjuangkan kepentingan ummat.

2)      Mengantarkan dan memberikan petunjuk

Sudah umum jika pepmimpin itu suka memberikan perintah. Akan tetapi segala perintah itu mungkin akan tersendat tidak dilaksanakan tanpa petunjuk dan bimbingan. Oleh karena itu, salah satu fungsi pimpinan tidak hanya pandai memerintah, tapi juga mengantarkan, memberikan petunjuk kepada yang diperintah.

3)      Menegakkan hukum

Di dalam masyarakat terdapat peraturan, undang-undang dan ketetapan-ketetapan, baik yang datang dari Allah maupun yang dibuat oleh manusia sendiri, misalnya peraturan lalu lintas. Pemimpin  bertanggung jawab atas terselenggaranya tertib hukum.[6]

4)      Amar ma’ruf dan nahi mungkar

Pemimpin berkewajiban memajukan pembangunan jama’ah dan ummat dengan segala inisiatif dan kegiatan yang aktif, menyediakan medan-medan kebajikan dan kebaikan guna mencapai kesejahteraan lahir batin. Pemimin harus selalu gandrung kepada pembangunan yang bersifat ma’ruf.

Kewajiban pemimpn yang lain adalah mencegah segala macam kemungkaran, baik secara langsung maupun dengan menutup segala kemungkinan yang akan membawa kemungkaran.

5)      Mendidik

Seorang pemimpin juga bertugas menjadi “guru” yang tidak hanya dapat memerintah, tapi juga dapat mendidik dan memberikan contoh yang baik.

6)      Memelihara dan melindungi

Pemimpin bertugas mengawal ummat dengan berbagai alat dan pengawalnya serta melindungi mereka dari setiap ancaman, bahaya dan gangguan-gangguan yang akan merusak ummat itu sendiri.

7)      Bertanggung jawab

Konsekwensi sebagai pemimpin ialah harus mempertanggungjawabkan segala tindakannya. Pemimpin bertanggung jawab kepada Allah dan bertanggung jawab kepada ummat yang dipimpinnya. Melalaikan tanggung jawabnya berarti menyalahi garis kepemimpinan yang diamanahkan kepadanya.

  1. Kesimpulan

Kepemimpinan adalah keseluruhan tindakan untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah proses pemberian pembimbingan dan contoh tauladan, proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) daripada pekerjaan-pekerjaan orang-orang yang terorganisir guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk menjadi pemimpin yang baik maka seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat dan kelebihan, yaitu:

  1. Beriman dan bertaqwa
  2. Kelebihan jasmani
  3. Trampil dan berpengetahuan
  4. Kelebihan batin
  5. Memiliki keneranian (syaja’ah)
  6. Adil dan jujur
  7. Bijaksana
  8. Demokratis
  9. Penyantun
  10. Faham keadaan ummat
  11. Ikhlas dan rela berkorban
  12. Qana’ah
  13. Istiqomah
  14. Berakhlaqul karimah
  1. Penutup

Demikianlah makalah yang dapat penulis sampaikan. Kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan agar bisa lebih baik nantinya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca. Amien.

DAFTAR PUSTAKA

Nawawi, Hadari, Prof. Dr. H. 1993. Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ya’qub, Hamzah, Dr. H. 1992. Publisistik Islam-Teknik Dakwah dan Leadership. Bandung: C.V. DIPONEGORO


[1] Prof. Dr. H. Hadari Nawawi. Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, cet. 1, 1993. Hlm. 16

[2] Dr. H. Hamzah Ya’qub. Publisistik Islam-Teknik Dakwah dan Leadership. Bandung: C.V. Diponegoro, cet. 4, 1992. Hlm. 137

[3] Ibid. hlm 138

[4] Ibid. hlm. 119

[5] Ibid. hlm. 130

[6] Ibid.hlm. 149-150

By barristacoffelicious Posted in Makalahku