Jamaluddin al-Afghani

  1. PENDAHULUAN

Abad ke 19 hingga abad ke 20 merupakan suatu momentum dimana umat Islam memasuki suatu gerbang baru, gerbang pembaharuan. Fase ini kerap disebut sebagai abad modernisme, suatu abad dimana umat diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Barat jauh mengungguli mereka. Keadaan ini membuat berbagai respon bermunculan, berbagai kalangan Islam merespon dengan cara yang berbeda berdasarkan pada corak keislaman mereka. Ada yang merespon dengan sikap akomodatif dan mengakui bahwa memang umat sedang terpuruk dan harus mengikuti bangsa Barat agar dapat bangkit dari keterpurukan itu.

Berbicara abad pembaharuan dalam Islam, maka tak lepas dari seorang tokoh yang merupakan sosok penting dalam pembaharuan Islam, al-Afghani, seorang pembaharu yang memiliki keunikan, kekhasan, dan misterinya sendiri. Berangkat dari pembagian corak keIslaman di atas, Afghani menempati posisi yang unik dalam menanggapi dominasi Barat terhadap Islam. Di satu sisi, Afghani sangat moderat dengan mengakomodasi ide-ide yang datang dari Barat, ini dilakukannya demi memperbaiki kemerosotan umat. Namun di lain sisi, Afghani tampil begitu keras ketika itu berkenaan dengan masalah kebangsaan atau mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keIslaman.[1]

  1. KEHIDUPAN, KARYA DAN PEMIKIRANNYA
  1. A.    Kehidupan

Jamaluddin al-Afghani lahir di Asadabad, Afghanistan pada tahun 1839. Pertama kali, ia belajar di Persia dan Afghanistan. Pada usia 18 tahun ia telah mempunyai pengetahuan yang istimewa dalam ilmu-ilmu Islam, seperti filsafat dan ilmu-ilmu yang lain.

Ketika berusia 22 tahun ia telah menjadi pembantu pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Pada tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad A’zam Khan menjadi perdana menteri. Pada waktu itu Inggris telah mulai mencampuri persoalan politik dalam negeri Afghanistan dan dalam pergolakan yang terjadi Al-Afghani lebih memilih pihak yang melawan golongan yang disokong Inggris. Pihak pertama kalah dan Al-Afghani merasa lebih aman meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke India pada tahun 1869. [2]

Karena di India  ia juga merasa tidak bebas bergerak, kemudian ia pindah ke Mesir pada tahun 1871 dan menetap di Kairo. Pada mulanya ia menjauhi persoalan-persoalan politik Mesir dan memusatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra Arab.

Kehidupannya selama di Mesir dipandang sebagai pembuka sejarah hidupnya. Kalangan orang terpelajar menerimanya dengan baik bahkan meminta agar Al-Afghani tinggal lebih lama di Mesir. Di sini ia dapat mempengaruhi Muhammad Abduh yang kemudian menyebabkannya menjadi salah satu mujaddid dalam renaissance Islam. Al-Afghani sering memperingatkan rakyat Mesir tentang bahaya besar penjajahan terhadap Mesir. Disamping memajukan sikapnya untuk mencairkan pengertian Islam, ia pun menyerakkan faham politik menentang Imperialis. Sehingga ia diusir dari Mesir oleh Inggris pada tahun1879.[3]

Setelah diusir dari Mesir, Al-Afghani pindah ke Paris dan mendirikan perkumpulan Al-Urwah Al-Wutsqa. Anggotanya terdiri atas orang Islam dari India, Mesir, Syiria, Afrika Utara dan lain-lain.

Cita-cita Al-Afghani hanya satu, yaitu “mulia”. Ia selalu berkata: “Hiduplah mulia dan matilah mulia di tengah gelombang pedang dan lambaian bendera.”

  1. B.     Karyanya

Baru saja meninggalkan Afghanistan dan menuju ke India, Al-Afghani menulis sebuah buku yang berjudul Al-Radd ala Ad-Dahriyyin (Penolakan atas Kaum Materialis). Buku ini adalah sebuah pembelaan atas Islam dari serangan zaman modern.

Kemudian setelah diusir dari Mesir dan pindah ke Paris, bersama Muhammad Abduh ia menerbitkan majalah dalam bahasa Arab, Al-Urwat el Wutsqa. Majalah ini menggelorakan rasa keinsyafan umat Islam agar bangun menantang penjajahan Barat.[4]

Karya Al-Afghani selanjutnya adalah buku yang berjudul Dia’al Kahficain (Kemegahan dua penjuru alam ). Buku ini ia karang saat mengunjungi Inggris dan mengadakan kampanye menentang Shah Persia.[5]

  1. C.    Garis Besar Pemikirannya

Jamaluddin Al-Afghani melihat berbagai bentuk yang dilakukan oleh penjajah Barat di negara-negara Islam, yaitu merusak kepribadian Islam, sedangkan yang paling berbahaya adalah berusaha merusak akidah seorang muslim, baik dengan menciptakan keragu-raguan maupun menghilangkan akidah dari hatinya dengan memasukkan paham ateis pada umat Islam.

Menghadapi penjajahan tersebut, Al-Afghani sadar bahwa umat Islam sangat terancam oleh kekuatan Barat yang dinamis, sedangkan umat Islam dalam keadaan lemah yang dikarenakan lemahnya persaudaraan di antara negara-negara Islam itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, Al-Afghani menuntun perlawanan dengan mengobarkan semangat persatuan umat Islam melalui Pan Islamisme yang berpusat di Kabul, Afghanistan. Pergerakan tersebut menggunakan aliran pikiran modern dan menghendaki persatuan umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam seperti zaman Khalifah dahulu. Gerakan Pan Islamisme sebagai gerakan yang sangat revolusioner dan anti penjajahan.

Pan Islamisme bertujuan untuk melepaskan cengkeraman bangsa Barat. Kemajuan umat Islam tidak akan berhasil jika perpecahan terjadi pada umat Islam. Oleh karena itu Al-Afghani mengajak umat Islam:

a)      Untuk kembali pada Al-Qur’an, menghilangkan fanatisme madzhab, menghilangkan taqlid golongan.

b)      Mengadakan ijtihad terhadap Al-Qur’an.

c)      Menyesuaikan prinsip Al-Qur’an dengan kondisi kehidupan umat.

d)     Menghilangkan kurafat dan bid’ah.

e)      Mengambil peradaban, kebudayaan Barat yang positif sesuai dengan agama Islam serta menciptakan satu pemerintahan Islam yang berhubungan satu sama lain.

Dengan perjuangannya melawan imperialisme Barat, Al-Afghani ingin merubah keadaan umat Islam yang lemah menjadi kuat agar mereka dapat menghadapi permusuhan Barat dengan persiapan yang teratur dan kuat.[6]

Al-Afghani masih menganggap kuat atas agama sebagai pemersatu. Semasa hidupnya, Al-Afghani memang berusaha untuk mewujudkan persatuan itu. Yang terkandung dalam Pan Islamisme ialah persatuan seluruh umat Islam, dan usahanya sedikit-banyak akan membuahkan hasil dan itu terlihat dengan jelas bahwa ide-ide modernisme di Mesir menjadi bagian penting yang menggugah kesadaran umat Islam untuk mengevaluasi diri, terutama mengenai hal-hal yang berkenaan dengan keterbelakangan mereka selama ini.[7]

  1. PEMIKIRAN FILSAFAT AL-AFGHANI

Kehidupan Al-Afghani sejalan dengan fikirannya. Teori dan praktik, keduanya berjalan menjadi satu dalam usahanya. Lapangan usaha Al-Afghani dalam dunia Islam modern, serupa dengan usaha Socrates dalam alam Hellenis di zaman purbakala. Fikiran Al-Afghani disulam dengan keadaan hidupnya yang merupakan tiga jenis keadaan: kelezatan rohani, perasaan pembelaan agama dan moral tinggi, yang kesemuanya ini telah mempengaruhi alam fikirannya dan membayang ke dalam bukunya yang berjudul Al-Radd ala ad-Dahriyin­-penolakan atas kaum materialis.

Al-Akkad, seorang pengarang Mesir yang ternama menyatakan bahwa Al-Afghani telah menjadi propagandis Islam, berhubungan dengan kebenciannya terhadap materialisme. Dengan pemandangan tabiat alam, ia menolak pengaruh materialisme sebelum Marxisme populer, tumbuh di Eropa.[8]

Tehadap perasaan agama, Al-Afghani sebagai pemimpin agama dalam masyarakat mengatakan: “Agama adalah sesuatu yang penting adanya bagi satu bangsa, karena agama itulah sumber keberuntungan umat manusia.” Selanjutnya ia mengatakan bahwa peradaban yang sebenarna adalah yang didasarkan kepada pelajaran budi pekerti dan agama, bukan peradaban yang didasarkan pada kemajuan material, seperti pembangunan kota-kota besar, pendirian perusahaan raksasa atau menciptakan mesin-mesin ultra-modern yang dipergunakan untuk membunuh dan menghancurkan.

Terhadap perasaan susila dan budi pekerti, Al-Afghani melemparkan kutuk terhadap politik kolonial imperialis negara-negara penjajah Barat yang menggunakan sistem yang didasarkan pada kekejian dan memperbudak orang yang lemah.

Selanjutnya Al-Afghani menunjukkan dengan jelas perbedaan antara sosialisme muslim yang didasarkan kepada cinta dan kasih sayang, akal dan kebebasan. Sedangkan sosialisme komunis didasarkan keapada kebendaan yang mandul akan kasih sayang yang akhirnya menimbulkan perasaan benci-membenci. Komunis berganti-ganti menjatuhkan kawan karena sifat keakuan (selfishness) yang tak dapat dikekang dan mereka memang tidak punya alat pengekang itu, karena tidak beragama dan memecah dalam masyarakat mereka. Al-Afghani pada waktu yang sama merupakan seorang muslim sejati dan seorang rationalis. Ia menuntut kepada segala madzhab kaum muslimin untuk mengambil perhatian, agar menggunakan dasar otak untuk mencapai kemajuan. Suara ini diteriakkan sekuat mungkin karena pada masa itu umat Islam tidak lagi menggunakan otaknya, akan tetapi sudah meras cukup membaca yang tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi dan otak-otaknya sudah berhenti berfikir.  Tentang ini ia mengatakan: “Di antara segala agama, hanya Islamlah yang mengutuk pendirian percaya saja dengan tidak membandingkan kebenarannya dan tidak menyukai seseorang yang mengikuti faham orang lain, dengan tidak mendapat kepastian kebenarannya. Bagaimanapun juga, Islam itu berkata, ia akan berkata dengan akal. Kitab suci orang muslim itu menyatakan bahwa keberuntungan itu terletak dalam cara yang benar bagi orang yang menggunakan akalnya.”

Akal menjadi dasar pokok bagi kehidupan orang Islam, sebab, hilang agama bagi orang yang kehilangan akal.

Sebagai seorang yang mengagungkan akal dan fikiran, Al-Afghani menyokong pendapat golongan yang membebaskan dirinya dari pada pelajaran Takdir. Faham ini dinamakan dengan dunia modern dengan fatalisme, percaya pada takdir dengan mengesampingkan kekuatan akal untuk menghindari tiap bahaya. Dalam persoalan ini Al-Afghani menerangkan bahwa yang dikatakan Al-Qada wal-Qadar adalah  seperti pengertian predestination dalam bahasa inggris, sebagai tujuan permulaan. Ia mempunyai perbedaan yang besar sekali sebagaimana yang diartikan oleh orientalis Barat sebagai fatalisme yang dalam bahasa Arab disebutkan al-jabr. Al-Qada wal-Qadar adalah suatu kepercayaan yang menguatkan kekuatan fikiran untuk mengambil keputusan dari kaum muslimin. Dengan mempercayai Al-Qada wal-Qadar itu seorang muslim akan naik energi moralnya dan mendorongnya kepada tawakkal dan sabar untuk mencapai tujuannya. Berlainan sekali dengan al-jabr, penyerhan diri yang sesat, suatu bid’ah yang dimasukkan ke dalam pelajaran Islam oleh musuh-musuh Islam untuk melumpuhkannya dari dalam dan untuk tijuan politik tertentu.[9]

  • Ajaran politik

Al-Afghani dinamakan oleh penulis-penulis Barat sebagai bapa Pan Islamisme yang mengajarkan agar umat Islam di seluruh dunia bersatu dalam sebuah Khalifah untuk membebaskan mereka dari perbudakan bangsa asing. Negara-negara Barat telah membenarkan penyerangan dan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh mereka atas negara-negara Timur. Tidak hanya mengadakan penyerangan dan penjajahan, akan tetapi mereka juga telah menggunakan segala cara untuk mencegah tumbuhnya kekuatan negara-negara Timur kembali. Segala gejala yang membawa pada renaissance dari setiap negeri Islam ditumpas habis dengan segenap kekuatan, sehingga tidak ada yang tersisa bagi umat muslim. Oleh karena itu perlu bagi segenap negeri Islam bersatu dalam suatu pertahanan bersama untuk membela kedudukan mereka dari keruntuhan yang besar. Untuk mencapai ini orang Islam harus mempunyai kepandaian tekhnik dalam rangka kemajuan Barat dan wajib belajar segala rahasia kekuatan orang Eropa.

Pendapat ini selalu diulang-ulangnya dalam majalah Al-urwat el-Wutsqa. Dalam sebuah karangannya yang bertajuk “Persatuan Islam”, ia menyatakan bahwa umat Islam telah pernah bersatu merupakan kesatuan umat di bawah pemerintahan yang gilang-gemilang. Pada waktu itu mereka mencapai kemajuan dalam ilmu dan pelajaran. Mereka terkemuka  dalam filsafat dan ilmu-ilmu lain. Semua yang pernah dicapai umat Islam pada saat itu menjadi pusaka dan kebangaan umat Islam sampai sekarang. Karena hal itu menjadi motivasi tercapainya kesatuan itu. Umat Islam harus insyaf dan harus mengerti bahwa dalam keadaan bagaimanapun mereka tidak diperbolehkan berdamai dan bekerjasama dengan orang yang telah menjajah mereka, sehingga tercapai kekuatan yang penuh, di mana mereka sendiri menentukan nasib mereka.[10]

Demikanlah pengertian apa yang dinamakan Pan Islamisme yang dianjurkan oleh Al-Afghani.

  • Patriotisme

Gelora panas yang dituangkan Al-Afghani ke dalam hati tiap-tiap muslim yang membaca tulisannya, akan tetapi ia tidak pernah mencoba menukar agama itu dengan bentuk national patriotisme. Ia hanya berusaha mendekatkan setiap muslim itu dalam bentuk perseorangan. Akan tetapi apabila muslim itu merupakan suatu negara, ia berusaha untukmenimbulkan pengertian satu bagi setiap warga negaranya dengan tali Islam yang dianut mereka. Persatuan ini supaya digunakan untuk mencapai kebebasan politik. Ia berusaha mempermuda, membaharui alira fikiran Turki, Persia, India, dan Mesir, di samping ia mempermuda dan membaharui alam fikiran umat Islam yang berada disekitarnya. Orang-orang Islam yang masih beruntung mempunyai negara, meskipun dalam banjir semangat dan kerakusan penjajah Barat, masih dapat mempergunakan pengaruh mereka, bersamaan dalam lapangan kehidupan politik dan sosial membendung kerakusan Barat terhadap berbagai negara-negara Islam yang terjajah.

Dalam anjurannya terhadap membela negara masing-masing, Al-Afghani menguraikan pendapatnya dalam Urwat el-Wutsqa, sebagai berikut: “untuk  mempertahankan tanah tumpah darah adalah undang-undang alam yang merupakan suatu kewajiban hidup yang diikat dengan undang-undang alam melaui instink sebagaimakan dan minum. Tidak ada yang memuji instink ini kalau pembelaan itu hanya sekedar untuk makan dan minum belaka dan tidak disertai semangat patriot yang menyala-nyala. Sebaliknya, lawan dari patrion adalah traitor atau pengkhianat bangsa.”

Terhadap pengertian pengkhianat ini, Al-Afghani menyatakan pendapatnya: “Dengan istilah pengkhiana, kita tidak  menunjukkan kepada seorang yang menjual negaranya untuk kepentingan keuangan dengan menyerahkan negerinya sebagai alasan ia menerima pembayaran, besar atau kecil. Setiap penjualan negara bagaimanapun besarnya harga yang diterima, akan tetapi itu dianggap sangat rendah. Yang dimaksudkan dengan pengkhianat yang sebenarnya adalah perseorangan yang bertanggun jawab atas musuh yang selangkah demi selangkah mask ke dalam tanah airnya. Barangsiapa yang membuka kesempatan bagi musuh yang menjejakkan kaki dalam negerinya, sedangkan ia sanggup untuk menghalangi yang demikian itu, inilah yang dinamakan penghianat, apapun juga topeng yang dipakainya, apapun juga helah yang dikemukakannya untuk menyelimuti perbuatannya tidaklah berfaedah. Barangsiapa yang sanggup bertindak dengan kekuatan atau bertindak dengan kekuatannya untuk melakukan counter aksi terhadap tindakan musuh, akan tetapi ia sendiri diam berpangku tangan dan duduk bungkem, orang ini adalah termasuk orang yang dinamakan pengkhianat.”

Setelah Al-Afghani menguraikan pendapat di atas, ia melanjutkan lagi: “Tidak usahlah merasa malu bagi negara bagaimanapun kecilnya, betapapun lemah dengan sedikit rakyatnya, jikalau ia bangun mengangkat senjata melawan suatu negara besar dan jauh lebih kuat dari padanya, manakala negeri itu melanggar kehormatannya. Kepahitan yang diperoleh dalam perjalanan  waktu  tidak dapat dihapuskan, baik oleh suatu bangsa, oleh individual atau oleh golongan, akan tetap mengikat leher mereka di bawah pemerasan musuh. Kejadian ini datang baik karena kelalaian dalam mengurus persoalan negeri sendiri atau terjadi karena mengharapkan keuntungan yang bersifat sementara, orang-orang ini dianggap sebagai agen dari kerbuhan mereka sendiri.”[11]

  • Kebudayaan Nasional

Al-Afghani mengatakan bahwa orang-orang Barat melakukan cara-cara kasar di Timur untuk menekan semangat patriot serta dengan membekukan pendidikan-pendidikan nasional dan merusak kebudayaan Timur. Mereka menghambat langkah orang Timur untuk ikut memikirkan nasib negaranya dan mencegah orang-orangnya yang berhasrat untuk mencapai kesempurnaan. Selain itu, orang-orang Barat berusaha untuk meniadakan segala kebaikan yang terdapat di Timur. Mereka mengatakan dalam bahasa Arab, Persia atau India tidak sesuatu yang dapat dianggap sebagai nilai sastra dan tidak ada yang penting. Mereka menekan  kepercayaan bahwa bahasa-bahasa Timur tidak sanggup dijadikan bahasa ilmu, karena itu rakyat dianjurkan agar mempelajari bahasa-bahasa Barat.

Akibat penjajahan, banyak orang Timur yang tidak lagi dapat mengutarakan pendapatnya dalam bahasanya sendiri. Maka timbullah rasa dalam hati bahwa untuk memperoleh pengetahuan peradaban dan kebudayaan manusia, haruslah dapat menguasai salah satu bahasa Barat. Kepercayaan ini datang karena orang-orang Barat mengusahakan agar pengetahuan-pengetahuan tidak ditulis dalam bahasa Timur.

Al-Afghani melanjutkan pendapatnya bahwa haruslah dipahami oleh orang-orang Timur bahwa suatu bangsa yang tidak menggunakan bahsanya sendiri tidak akan dapat mengadakan perasaan yang baik dalam masyarakat. Jika bahsa telah mati, maka kesusasteraannya pun ikut mati. Setelah itu habislah harga sebagai bangsa jika tida mempunyai kesusasteraan sendiri. Sejarah tidak akan dilahirkan kalau rakyatnya tidak mengakui kebaikan-kebaikan yang telah dikerjakan oleh orang-orang segenerasinya.

Demikianlah Al-Afghani berusaha mengembalikan rasa kebangsaan yang telah hilang dari beberapa negara Islam yang telah memandang mulia segala yang datang dari Barat dan memandang hina apa-apa yang terbit di dunia Timur.[12]

 

  1. KESIMPULAN

Al-Afghani menuntun perlawanan dengan mengobarkan semangat persatuan umat Islam melalui Pan Islamisme yang berpusat di Kabul, Afghanistan. Pergerakan tersebut menggunakan aliran pikiran modern dan menghendaki persatuan umat Islam di bawah satu pemerintahan Islam seperti zaman Khalifah dahulu. Gerakan Pan Islamisme sebagai gerakan yang sangat revolusioner dan anti penjajahan.

Pan Islamisme bertujuan untuk melepaskan cengkeraman bangsa Barat. Kemajuan umat Islam tidak akan berhasil jika perpecahan terjadi pada umat Islam. Oleh karena itu Al-Afghani mengajak umat Islam:

a)      Untuk kembali pada Al-Qur’an, menghilangkan fanatisme madzhab, menghilangkan taqlid golongan.

b)      Mengadakan ijtihad terhadap Al-Qur’an.

c)      Menyesuaikan prinsip Al-Qur’an dengan kondisi kehidupan umat.

d)     Menghilangkan kurafat dan bid’ah.

e)      Mengambil peradaban, kebudayaan Barat yang positif sesuai dengan agama Islam serta menciptakan satu pemerintahan Islam yang berhubungan satu sama lain.

  1. PENUTUP

Demikianlah makalah kami yang sedikit mengupas tentang Jamaluddin Al-Afghani. Tentunya makalah ini terdapat banyak kekurangan karena minimnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan agar dalam menyusun makalah selanjutnya dapat lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan pembaca. Amien.

DAFTAR PUSTAKA

Black, Antony. 2006. Pemikiran Politik Islam. Jakarta: Serambi

Hoesin, Oemar Amin. 1975. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Majid, Nurcholish. 1994. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Nasution, Harun. 2003. Pembaharuan dalam Islam, sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Sani, Abdul. 1998. Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Sjadzali, Munawir. 1993. Islam dan Tata Negara, ajaran, sejarah dan pemikiran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)

Taufik, Ahmad. 2005. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


[1] Antony Black. Pemikiran Politik Islam, Jakarta: Serambi, 2006. Hlm. 550

[2] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam, sejarah pemikiran dan gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2003. Cet. 14. Hlm. 43

[3] Dr. Oemar Amin Hoesin. Filsafat Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1979. Cet. 3. Hlm. 159.

[4] Nurcholish Majid. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1994. Cet. 3. Hlm. 57

[5]Op.cit., Hlm. 160

[6] Akhmad Taufiq, M. Pd. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005. Hlm. 90-92

[7] Drs. Abdul Sani. Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998. Cet. 1. Hlm. 47

[8] H. Munawir Syadzali, M. A. Islam dan Tata Negara, ajaran, sejarah dan pemikiran.  Jakarta: penerbit Universitas Indonesia (UI-press), 1993. Hlm. 118

[9] Dr. Oemar Amin Hoesin. Op.cit., hlm 160-163

[10] Dr. Oemar Amin Hoesin. Ibid. Hlm. 164

[11] Ibid. Hlm. 165-167

[12] Ibid. Hlm. 167-168

Advertisements
By barristacoffelicious Posted in Makalahku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s